Skip to main content

follow us



Geisha, mendengar nama ini kebanyakan orang pasti berfikir negatif. Ya.... perempuan cantik bermake up putih tebal dengan bibir yang merah merona ini oleh orang di luaran Jepang sering di kaitkan dengan Pekerja Seks Komersial. Bukan tanpa alasan sih kenapa orang sampai salah kaprah mengira Geisha adalah wanita pemuas nafsu. Seperti di kutip dari Liputan6.com dari situs listverse hal tersebut berawal dari berakhirnya perang dunia kedua dimana saat itu banyak PSK Jepang yang mengaku- aku sebagai Geisha mendatangi tentara Amerika Serikat yang saat itu di tempatkan di Jepang.  Dengan dandanan ala Geisha mereka berupaya menarik para tentara Amerika untuk mau tidur dengan mereka, tentunya dengan bayaran yang tak seberapa karena hanya bisa ditukarkan dengan makanan.


Jadi  kabar yang menyebutkan Geisha adalah wanita pemuas nafsu tidaklah benar.  Meskipun secara umum para Geisha di tempatkan di rumah bordil tapi tugas utamanya hanya menghibur para lelaki hidung belang dengan nyanyian, tarian ,dan rayuan agar para lelaki tersebut senang dan kerasan berlama - lama di tempat hiburan tersebut. Hal ini tentu berbeda dengan Oiran atau penjaja cinta. Jadi maksud adanya Geisha di tempat hiburan tersebut agar tamu bisa menikmati hiburan dari Geisha sebelum nantinya berkencan dengan Oiran. Bahkan demi menjaga Geisha atau tidak ingin ada perselisihan dengan Oiran di salah satu  rumah bordil terdapat peraturan dimana  Geisha dilarang duduk dekat dengan pelanggan. Karena itulah bahkan mereka punya semboyan " kami menjual seni bukan tubuh. Kami tidak pernah menjual tubuh kami demi uang".

Hal inilah yang patut di sayangkan karena banyak orang awam yang belum tahu fakta yang sebenarnya dari  Geisha. Geisha atau Geiko sendiri merupakan seorang seniman dan penghibur tradisional Jepang. untuk menjadi seorang Geisha  juga tidak mudah ada proses yang harus di lalui. Setidaknya mereka harus menempuh 5 tahun belajar untuk menjadi seorang Geisha profesional.

Ada berbagai hal yang harus dipelajari dalam proses pendidikan ini seperti bernyanyi, menari, dan memainkan musik. Dimana selama proses pembelajaran seorang Geisha di temani seorang mentor yang siap membantunya dengan ilmu yang dimiliki. Dimasa kejayaannya, untuk menjadi Geisha anak remaja yang berusia 13 tahun biasanya sudah dimasukkan di sekolah khusus ini.

Selama ini jika menyebut Geisha tentu wajah putih, dengan bibir merah merona dengan pakaian kimono. Namun tahukah anda jika itu bukanlah seorang Geisha, melainkan Maiko atau calon Geisha. Cat atau bedak putih pada wajah itulah yang jadi pembeda atau simbol dari tingkatan Geisha itu sendiri. Jadi semakin dia minim pengalaman biasanya make up yang digunakan semakin tebal. Pun demikian dengan Geisha yang telah senior, biasanya mereka di beri kelonggaran tentang riasan pada wajah tersebut.

Uniknya tidak semua Geisha masih muda, justru semakin berumur Geisha semakin di hargai . Para Geisha inipun boleh pensiun manakala ia menikah. Namun tak sedikit pula yang melanjutkan jadi Geisha sampai mereka renta. Di masa kejayaannya bahkan mereka dianggap populer jika telah mencapai usia 50 - 60 tahun. Di mana di usia ini mereka dianggap cantik sehingga bisa menampilkan wajah mereka tanpa polesan make up.

Saat ini Geisha tertua tercatat telah berusia 94 tahun yaitu Yuko Asakusa dimana ia telah menjadi Geisha sejak usianya 16 tahun. Meski sudah renta jangan dianggap remeh, karena dia justru hanya menangani pejabat atau pebisnis super kaya. Tentunya dengan bayaran yang waw juga. Jadi ternyata menjadi seorang Geisha yang di segani bukanlah semata karena kecantikan namun lebih pada umur. Karena faktanya semakin berumur semakin berharga mahal.

Artikel Pilihan Editor:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar